hai, teman favoritku❤š£
Perkenalkan. Dia teman favoritku di masa putih abu-abu. Dia laki-laki; dilahirkan di penghujung bulan September di tahun itu; anak kebanggaan yang disebut-sebut dalam setiap doa bapak-ibu-nya; bisa berbahasa Indonesia dan bisa baca tulis.
Namanya Dilan (bukan) nama sebenarnya. Bukan Dilan di buku ayah Pidi Baiq kesayangan banyak orang. Bukan Dilan panglima tempur geng motor tahun 1990. Bukan juga Dilan si tukang ramal. Bukan Dilan yang jago berantem.
Dilanku ini dimataku anak sholeh, tiap jam istirahat mampir mushola dulu: sholat dhuha. Dilanku ini tidak ahli meramal, tapi jago main game di kelas. Berantem? Jauh…… dia orang yang hangat, selalu tenang dan tidak bersumbu pendek, bahkan club bola kesayangannya di caci maki, hanya bisa tersenyum dan berkata: “lihat saja nanti”.
š£: YA MESKIPUN EMANG CLUB BOLA DIA KALAHAN SIH HAHAHAHA. PAYAH.
Aku menyukainya sejak sama-sama duduk dibangku sekolah yang sama karena dia anak baik idaman semua perempuan. Suka saja, belum ada tambahan "sekali". Ya anak baik, pasti semua perempuan juga suka. Tetapi aku lebih jatuh hati karena ia adalah orang pertama yang mendengar keluh kesahku saat sedang masa sulit menyelesaikan study ku di Jogja kala itu. Menawarkan diri untuk selalu di sisiku ketika sedang susah-susahnya memenuhi ambisiku. Menemaniku dengan sabar ditengah kesibukannya di pulau seberang. Lalu entah bagaimana caranya, aku semakin jatuh dan tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Sampai hari ini.
Aku masih mengingat dengan jelas hingga detik ini. Malam itu, ia memilih pergi dan menyerah dengan begitu mudahnya. Untuk pertama kalinya, ditinggalkan ketika sedang cinta-cintanya bahkan tanpa pernah memiliki.
Aku melalui bulan-bulan paling menyedihkan. Aku pernah patah hati, tapi kali ini yang paling menyakitkan. Dan yang lebih membuat semua ini terasa menyedihkan, aku tidak pernah tahu alasan sebenarnya ia pergi. Aku membesarkan hatiku sendiri dengan segala macam asumsi yang ku buat. Akupun membatasi komunikasi baik online maupun offline, bahkan sampai menonaktifkan sosial media. Rasanya benar-benar ingin melarikan diri dari bumi. Setahun terakhir, hidupku terasa berjalan ditempat. Ini sungguh masa-masa sulit.
Berusaha untuk bangkit dengan mencintai diriku sendiri. Mulai dari bekerja, olahraga, memasak, memaksakan diri makan dengan teratur, tidur yang cukup, sesekali membaca buku kesukaanku; mendengarkan lagu-lagu kesayangan; beberapa kali pergi ke pantai untuk merasakan angin laut; duduk diam melihat langit biru; menunggu senja ketika tidak hujan. Aku hampir tidak punya waktu untuk mencari tahu kabarnya.
Aku rindu mendengar tawa renyahnya diujung telephone; rindu berbagi masalah hidup yang sederhana; rindu ketika aku marah-marah hanya karena ia tertidur; rindu menungu bermain game; rindu berkeluh kesah, karena ia memiliki segudang cara untuk menenangkan walaupun tidak memberikan solusi. Selalu menjadi pendengar yang baik. Cara menyelesaikan masalah selalu tenang berbeda denganku yang selalu panik. Aku sekarang rindu sampai sesak dan rindu sejadi-jadinya.
Aku belajar bagaimana menghargai setiap pertemuan dan perpisahan. Kata ibu, “yang dari hati akan sampai ke hati”. Aku percaya berdoa adalah wujud tertinggi dari cinta dan rindu. Kalau tidak sampai ke hati mungkin “slisiban”.
Aku sering kali berpikir: Mungkin aku yang terlalu berlebihan menafsirkan hubungan ini adalah lebih dari sekedar kawan dekat sedangkan ia biasa saja; hanya teman biasa. Entah apapun pendapatnya mengenai hal sensitif ini adalah urusan dia. Aku hanya ingin mengurusi hidupku sendiri dan semua kenangan ini. Entah sampai kapan. Aku belum tahu kapan akan berhenti. Biar, biarlah mengalir seperti air.
Kamu sedang apa? Aku baru saja pulang dan sedang menyeruput teh panas pertamaku dihari ini sambil menyambut gerimis sore turun rintik-rintik. Apakah kamu pernah mengingatku? Namaku? Walaupun hanya satu menit?
Ya, aku masih suka mengingatmu kadang-kadang.
Masalalu mungkin milik kita berdua, tetapi masa depan milik kita masing-masing. Mungkin saja sekarang kamu sudah menemukan perempuan yang lebih baik. Semoga tidak salah memilih dan berbahagialah.
Dari Mileamu yang sekedar numpang lewat,
-Aku-
Kamis, 12 April 2018
Namanya Dilan (bukan) nama sebenarnya. Bukan Dilan di buku ayah Pidi Baiq kesayangan banyak orang. Bukan Dilan panglima tempur geng motor tahun 1990. Bukan juga Dilan si tukang ramal. Bukan Dilan yang jago berantem.
Dilanku ini dimataku anak sholeh, tiap jam istirahat mampir mushola dulu: sholat dhuha. Dilanku ini tidak ahli meramal, tapi jago main game di kelas. Berantem? Jauh…… dia orang yang hangat, selalu tenang dan tidak bersumbu pendek, bahkan club bola kesayangannya di caci maki, hanya bisa tersenyum dan berkata: “lihat saja nanti”.
š£: YA MESKIPUN EMANG CLUB BOLA DIA KALAHAN SIH HAHAHAHA. PAYAH.
Aku menyukainya sejak sama-sama duduk dibangku sekolah yang sama karena dia anak baik idaman semua perempuan. Suka saja, belum ada tambahan "sekali". Ya anak baik, pasti semua perempuan juga suka. Tetapi aku lebih jatuh hati karena ia adalah orang pertama yang mendengar keluh kesahku saat sedang masa sulit menyelesaikan study ku di Jogja kala itu. Menawarkan diri untuk selalu di sisiku ketika sedang susah-susahnya memenuhi ambisiku. Menemaniku dengan sabar ditengah kesibukannya di pulau seberang. Lalu entah bagaimana caranya, aku semakin jatuh dan tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Sampai hari ini.
Aku masih mengingat dengan jelas hingga detik ini. Malam itu, ia memilih pergi dan menyerah dengan begitu mudahnya. Untuk pertama kalinya, ditinggalkan ketika sedang cinta-cintanya bahkan tanpa pernah memiliki.
Aku melalui bulan-bulan paling menyedihkan. Aku pernah patah hati, tapi kali ini yang paling menyakitkan. Dan yang lebih membuat semua ini terasa menyedihkan, aku tidak pernah tahu alasan sebenarnya ia pergi. Aku membesarkan hatiku sendiri dengan segala macam asumsi yang ku buat. Akupun membatasi komunikasi baik online maupun offline, bahkan sampai menonaktifkan sosial media. Rasanya benar-benar ingin melarikan diri dari bumi. Setahun terakhir, hidupku terasa berjalan ditempat. Ini sungguh masa-masa sulit.
Berusaha untuk bangkit dengan mencintai diriku sendiri. Mulai dari bekerja, olahraga, memasak, memaksakan diri makan dengan teratur, tidur yang cukup, sesekali membaca buku kesukaanku; mendengarkan lagu-lagu kesayangan; beberapa kali pergi ke pantai untuk merasakan angin laut; duduk diam melihat langit biru; menunggu senja ketika tidak hujan. Aku hampir tidak punya waktu untuk mencari tahu kabarnya.
Aku rindu mendengar tawa renyahnya diujung telephone; rindu berbagi masalah hidup yang sederhana; rindu ketika aku marah-marah hanya karena ia tertidur; rindu menungu bermain game; rindu berkeluh kesah, karena ia memiliki segudang cara untuk menenangkan walaupun tidak memberikan solusi. Selalu menjadi pendengar yang baik. Cara menyelesaikan masalah selalu tenang berbeda denganku yang selalu panik. Aku sekarang rindu sampai sesak dan rindu sejadi-jadinya.
Aku belajar bagaimana menghargai setiap pertemuan dan perpisahan. Kata ibu, “yang dari hati akan sampai ke hati”. Aku percaya berdoa adalah wujud tertinggi dari cinta dan rindu. Kalau tidak sampai ke hati mungkin “slisiban”.
Aku sering kali berpikir: Mungkin aku yang terlalu berlebihan menafsirkan hubungan ini adalah lebih dari sekedar kawan dekat sedangkan ia biasa saja; hanya teman biasa. Entah apapun pendapatnya mengenai hal sensitif ini adalah urusan dia. Aku hanya ingin mengurusi hidupku sendiri dan semua kenangan ini. Entah sampai kapan. Aku belum tahu kapan akan berhenti. Biar, biarlah mengalir seperti air.
Kamu sedang apa? Aku baru saja pulang dan sedang menyeruput teh panas pertamaku dihari ini sambil menyambut gerimis sore turun rintik-rintik. Apakah kamu pernah mengingatku? Namaku? Walaupun hanya satu menit?
Ya, aku masih suka mengingatmu kadang-kadang.
Masalalu mungkin milik kita berdua, tetapi masa depan milik kita masing-masing. Mungkin saja sekarang kamu sudah menemukan perempuan yang lebih baik. Semoga tidak salah memilih dan berbahagialah.
Dari Mileamu yang sekedar numpang lewat,
-Aku-
Kamis, 12 April 2018
Komentar
Posting Komentar